Jumat, Desember 05, 2008

Hari-hari yang Bijaksana

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana (Mazmur 90:12)

Doa Musa di Mazmur tersebut seperti menjadi antiklimaks atas semua perjalanan mereka selama empat puluh tahun di padang gurun. Namun, apakah maksud Musa saat ia berdoa memohon supaya Tuhan mengajar mereka menghitung hari-hari kehidupan mereka? Apakah semudah kita menghitung umur kita ataukah ada hal lain yang perlu dicermati?

Pengangguran di Hadapan Tuhan

Matius 20:1-16 bercerita tentang tuan yang mempunyai kebun anggur. Tuan itu tampaknya membutuhkan banyak sekali pekerja sehingga dari pukul lima pagi sampai lima sore empat kali ia ke pasar untuk mencari pekerja baru.

Ia agaknya tidak menyukai pengangguran, namun saya tidak sedang membicarakan pekerjaan. Mungkin Anda bekerja dan mendapat penghasilan yang sangat besar, namun di hadapan Tuhan Anda dianggap sebagai pengangguran. Itu sebabnya saya membahasnya supaya diperoleh pengertian yang bijaksana.

Kapan Kehidupan Kita Dihitung?

Apabila kita menyimak dengan jeli Kejadian 4:17-26 dan Kejadian 5:1-32, terlihat bahwa dalam perikop pertama tertulis silsilah tokoh-tokoh yang tidak ditulis tahun hidup. Sedangkan perikop kedua menulis keturunan Set (anak Adam dan Hawa setelah Habel mati terbunuh) secara rinci tahun demi tahun umur mereka. Keturunan yang tidak dihitung umurnya adalah keturunan Kain, sang pembunuh itu. Kesimpulannya, orang yang menjauhkan diri dari Tuhan seumur hidupnya tidak begitu diperhitungkan. Lalu, kapan kehidupan kita diperhitungkan?

Jawabannya ada di Keluaran 12:2, berfirmanlah Tuhan kepada Musa dan Harun, “Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu ....” Firman-Nya diucapkan tepat saat bangsa Israel keluar dari Mesir. Maksudnya adalah saat kita bertobat, menyadari hidup kita dan kemudian berbalik pada Tuhan, maka saat itulah hidup kita menjadi kalender baru di hadapan-Nya. This is a new day, this is a new life, hari di mana Anda diperhitungkan menjadi ciptaan yang baru. Yang lama sudah berlalu, yang ada hanya kehidupan yang baru. Namun, apakah setelah itu hidup kita selalu dihitung di hadapan-Nya?

Hari-hari yang Hilang

Pada saat Salomo mendirikan Bait Allah di tahun ketiga pemerintahannya, 1 Raja-raja 6:1 mencatat umur Israel adalah 480 tahun, tetapi jika membandingkannya dengan hasil perhitungan menurut Kisah Para Rasul 13:18-22, Israel telah di padang gurun 40 tahun, 450 tahun hidup di bawah bimbingan hakim-hakim, 40 tahun dipimpin Saul, dan 40 tahun dipimpin Daud. Ditambah tiga tahun masa pemerintahan Salomo, maka total tahun kehidupan bangsa Israel adalah 573 tahun. Mengapa ada selisih 93 tahun dibandingkan dengan yang tertulis di atas? Ternyata karena ada hari-hari yang hilang.

Tahun-tahun yang hilang ini bisa kita telusuri di Kitab Hakim-hakim 3:8; 3:14; 4:2,3; 6:1; 13:1. Ayat-ayat tersebut menunjukkan saat Israel meninggalkan Tuhan dan dijajah bangsa asing. Total waktu penjajahan itu adalah 93 tahun. Jadi, saat kita meninggalkan Tuhan di tengah perjalanan kita dengan-Nya, hari-hari kita tak dihitung-Nya. Kehidupan yang sia-sia.

Memperoleh Hati yang Bijaksana

Langkah kunci dalam menghitung hari-hari di hadapan-Nya adalah dengan menyerahkan hidup kita pada Tuhan Yesus seperti yang dikatakan Paulus di Galatia 2:20, “Hidupku bukannya aku lagi melainkan Kristus yang ada di dalam aku.” Sehingga setiap keputusan terkecil sekalipun harus diserahkan pada Tuhan. Jika tidak, kita hanya membuang-buang waktu saja karena tak diperhitungkan Tuhan.

Langkah selanjutnya adalah menerima setiap proses pendewasaan dalam diri kita. Proses itu mungkin menyakitkan secara daging. Jika kita bertahan melewatinya, kita akan memperoleh hati yang bijaksana seperti doa Musa tersebut. Selain itu, kita juga akan melihat kemuliaan-Nya. Amin.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar !