Jumat, Desember 19, 2008

Wahana Religi Nias


Para leluhur Nias kuno menganut kepercayaan animisme murni. Mereka mendewakan roh-roh yang tidak kelihatan dengan berbagai sebutan, misalnya: Lowalangi, Laturadanö, Zihi, Nadoya, Luluö dan sebagainya. Dewa-dewa tersebut memiliki sifat dan fungsi yang berbeda-beda. Selain roh-roh atau dewa yang tidak kelihatan dan tidak dapat diraba tersebut di atas, mereka juga memberhalakan roh-roh yang berdiam di dalam berbagai benda berwujud, misalnya: berbagai jenis patung, (Adu Nama, Adu Nina, Adu Nuwu, Adu Lawölö, Adu Siraha Horö, Adu Horö dll) yang dibuat dari bahan batu atau kayu dan juga percaya pada pohon tertentu, misalnya: Fösi, Böwö, Endruo, dll. Oleh karena masyarakat Nias percaya terhadap banyak dewa, maka sering disebut bahwa orang Nias kuno menganut kepercayaan politheisme.
Dalam acara pemujaan dewa-dewa tersebut, mereka menggunakan berbagai sarana misalnya: Dukun atau pemimpin agama kuno (Ere) sebagai perantara dalam menyampaikan permohonan selalu memukul fondrahi (tambur) pada saat menyampaikan permohonan dalam bentuk syair-syair kuno (Hoho) atau mantera-mantera. Selain itu, para ere juga mempersiapkan sesajen, misalnya: sirih dan makanan lainnya untuk dipersembahkan kepada para dewa agar apa yang dimohon dapat dikabulkan. Sesajen dalam bentuk makanan (babi, ayam, telur) disertai kepingan emas juga diberikan supaya upacara pember-halaan itu sempurna dan permohonan dikabulkan. Persembahaan dalam bentuk korban makanan dapat dibagi-bagi kepada orang yang hadir, akan tetapi setelah upacara penyembahan selesai, emas sering kali menjadi porsi ere pada akhirnya.
Banyak benda-benda mati yang dipercayai seolah-olah hidup dan memiliki kekuatan supernatural (sakti) sehingga dijadikan jimat sebagai sumber dan penambah kekuatan/kekebalan. Dari bebatuan, misalnya: Sikhöri Lafau, Kara Zi’ugu-ugu, Kara Mboli, Öri Zökha dan sebagainya. Sesama manusia juga di-ilah-kan. Hal ini tergambar dari ungkapan seperti: Sibaya ba sadono Lowalani (Lowalangi) ba guli danö. Artinya: Paman (saudara laki-laki sekandung dari ibu) dan orang tua merupakan jelmaan Tuhan yang hadir di bumi. Maka tidak heran kalau dalam tradisi kuno sebelum agama baru masuk di Nias, patung leluhur (Adu Zatua) selalu dibuat untuk kemudian diberhalakan. Kepercayaan dalam bentuk ani-misme-politheisme ditinggalkan oleh masyarakat setelah para misionaris menyebarkan agama di Nias. Pembuatan patung-patung dilarang, karena hanya dipandang dari sisi teologis saja, sementara pesan moral dan nilai seni di dalam berbagai patung (ukiran dan pahatan) itu tidak dihiraukan.
Pemusnahan patung-patung secara besar-besaran dilakukan pada masa adanya gerakan ‘Fangesa Dödö Sebua’ (pertobatan massal) sejak tahun 1916 sampai dengan tahun 1930 yang dimotori oleh para misionaris Kristen dari Eropa yang menganut pandangan “Christ against Culture” (Kristus menentang Kebudayaan).
Puluhan tahun kemudian, baru disadari, bahwa tindakan pemusnahan wahana religi kuno yang dilakukan pada masa lalu merupakan ‘kesalahan yang sangat merugikan suku bangsa’ yang sama artinya dengan pemusnahan bukti sejarah perkembangan masyarakat Nias, penghancuran identitas dan pembunuhan kreativitas seni yang dahulu mengalir begitu deras dalam darah generasi zaman itu.
51

Nomor Inventaris : 03-0138
Nama / Name
Nias : Fondrahi
Indonesia : Tambur
English : Long drum
Asal / Origin : Siwalawa, Telukdalam
Keaslian / Originality : Original
Deskripsi / Description :
This fondrahi used to be bitten by traditional priest or shaman (Ere) during conveying a request or praise to deity (world creator) accompanied by the sound of this instrument. Today, it’s merely used as a common musical instrument.
Tambur ini biasanya dipakai oleh imam tradisional atau dukun (Ere) pada saat ia menyampaikan permohonan atau puji-pujian kepada dewa yang diucapkan dalam bentuk syair (Hoho) dengan iringan bunyi alat musik ini. Sekarang hanya digunakan sebagai alat musik saja. Terbuat dari pohon nibung yang telah dilubangi dengan cara mengeruk daging hingga tembus dari kedua sisi. Pada salah satu ujung yang memiliki diameter lingkaran yang lebih besar ditutup dengan kulit kambing atau kulit ular, diikat dengan rotan di sekeliling pinggirnya. Panjang 73 cm dengan diameter 23,3 cm.
52

No. Reg. : 03-0115
Nama / Name
Nias : Takula
Indonesia :
English : Wooden Headgear
Asal / Origin : Maenamölö, Telukdalam
Keaslian / Originality : Replica
Deskripsi / Description :
This was worn by traditional priest or shaman (Ere) in renewal and ratifying of law rite ceremony called fondrakö. This headgear symbolized the new face or new spirit of human being that could integrate the mankind with the creator (God).
Takula ini dibuat dari bahan kayu dengan tinggi 134 cm. Bentuknya seperti topeng manusia, mempunyai dua tanduk berbentuk ‘V’ di atas kepalanya. Ini dipakai oleh pemuka agama kuno atau imam tradisional (Ere) pada puncak upacara pembaharuan hukum dan pengesahan hukum yang disebut Fondrakö. Takula ini melambangkan wajah atau jiwa manusia yang baru, sehingga dipandang dapat bertindak sebagai penghubung (mediator) antara manusia dengan penciptanya.
53

Nomor Inventaris : 03-3374
Nama / Name
Nias : Adu Harimao
Indonesia : Patung Harimau
English : Tiger figure
Asal / Origin : Bawömataluo, Telukdalam
Keaslian / Originality : Replica
Deskripsi / Description :
In ancient time, according to Nias belief in Maenamölö region Southern Nias, sort of this statue was marched by many people and constituted a sacred rite once every seven or fourteen years. It’s thrown away in the river. They believed that all sins and violence they committed during the previous years would wash away together with tiger figure.
Pada zaman dahulu sebelum agama baru masuk, menurut kepercayaan masyarakat Nias di wilayah Maenamölö, Nias Selatan, patung seperti ini diusung dan diarak sekali setiap tujuh tahun sebagai salah satu upacara religi kuno yang sakral. Upacara tersebut dinamakan ‘Famatö Harimao.’ Setelah patung tersebut diarak, kemudian dipatahkan dan dibuang ke dalam sungai atau air terjun dengan keyakinan bahwa segala kesalahan, pelanggaran dan dosa-dosa yang telah mereka perbuat pada tahun sebelumnya akan hanyut bersama dengan patung harimau tersebut. Famatö Harimao (pematahan patung harimau), tidak ada hubungannya dengan hewan harimau yang sesungguhnya tidak terdapat di Nias. Patung yang diarak pada zaman dahulu tidak seperti ini. Namanya Adu Harimao, tetapi anatominya seperti bentuk anjing berkepala kucing. Pada penutupan (akhir) upacara Famatö Harimao, hukum dan peraturan kemasyarakatan juga ditetapkan dan disyahkan layaknya seperti dalam Fondrakö (upacara pembaharuan, penetapan dan pengesahan hukum).
Karena dewasa ini, masyarakat telah memiliki agama dan hukum yang baru, maka upacara Famatö Harimao tidak dilaksanakan lagi. Dalam usaha pelestarian dan revitalisasi budaya lokal, maka tradisi kuno ini sering dilakukan di Nias Selatan pada moment-moment tertentu, namun upacara ini bukan lagi ‘Famatö Harimao’ namanya tetapi diubah menjadi ‘Famadaya Harimao’ (perarakan patung harimau).
54

No. Reg. : 03-3461
Nama / Name
Nias : Adu Sarambia
Indonesia :
English : A mother figure with her descendent
Asal / Origin : Telukdalam, Nias Selatan
Keaslian / Originality : Replica
Deskripsi / Description :
A mother figure with her descendent is made for a mother who had completely held her feast of merit (fa’ulu/owasa) in her lifetime. It was made after the mother passed away.
Patung seorang ibu bersama keturunannya yang terbuat dari kayu. Adu Sarambia dibuat untuk seorang ibu yang telah melakukan segala proses adat dalam bentuk pesta (Fa’ulu/owasa) dalam hidupnya. Tangannya terentang seolah-seolah sedang menari dengan mengenakan busana tradisional untuk menyambut para tamu yang menghadiri pesta. Pada lengan kanannya ada pundi-pundi tempat sirih (Bola Nafo).
55

Nomor Inventaris : 03-2992
Nama / Name
Nias : Adu Nina
Indonesia : Patung Leluhur
English : A mother figure
Asal / Origin :
Keaslian / Originality : Replica
Deskripsi / Description :
This statue is called Adu Nina or Adu Zatua, which was made of wood. Adu Nina used to be made after a mother passed away instead of the real mother. Her children believed that the spirit of their mother still stayed inside the wooden idol.
Patung ini disebut Adu Nina atau Adu Zatua yang dibuat dari kayu. Adu Nina dibuat setelah seorang ibu meninggal dunia sebagai pengganti dirinya. Anak-anaknya percaya bahwa arwah ibu mereka masih tinggal di dalam patung tersebut, sehingga kalau mereka hendak memohon sesuatu, mereka datang kepada patung ibu dengan membawa sesajen. Tinggi 38,4 cm dengan tebal 4,7 cm.
56

Nomor Inventaris : 03-2994
Nama / Name
Nias : Adu Nama
Indonesia : Patung Leluhur
English : Ancestor’s figure
Asal / Origin : Hilinakhe, Nias Tengah
Keaslian / Originality : Original
Deskripsi / Description :
This statue is called Adu Nama or Adu Zatua, which was made of wood. Adu Nama used to be made after a father passed away instead of the real father. His children believed that the spirit of their father still stay inside the wooden statue.
Patung ini disebut Adu Nama atau Adu Zatua yang dibuat dari kayu. Adu Nama dibuat setelah seorang ayah meninggal dunia sebagai pengganti dirinya. Anak-anaknya percaya bahwa arwah ayah mereka masih tinggal di dalam patung tersebut, sehingga kalau mereka memohon sesuatu, mereka datang menyembah Adu Nama dengan membawa sesajen. Tinggi 35 cm dan tebal 9 cm.
57

Nomor Inventaris : 03-2787
Nama / Name
Nias : Adu Furugö
Indonesia :
English :
Asal / Origin : Lölö’ana’a, Nias Tengah
Keaslian / Originality : Replica
Deskripsi / Description :
Wooden ancestor figure of some lineage.
Patung leluhur dari beberapa keturunan. Terbuat dari kayu. Lebar 27,7 cm dan tinggi 111,2 cm.
58

Nomor Inventaris : 03-2748
Nama / Name
Nias : Adu Siraha
Indonesia : Patung Siraha
English : Siraha Figure
Asal / Origin : Bawömataluo, Telukdalam
Keaslian / Originality : Replica
Deskripsi / Description :
This is made of wood. It’s idolized and was believed could prevent disaster.
Patung ini asli, terbuat dari kayu. Disembah dan dipercayai dapat menolak bala. Lebar 7,7 cm, tinggi 45 cm dan tebal 5,1 cm.
59
Nomor Inventaris : 03-02375
Nama / Name
Nias : Adu Siraha Horö
Indonesia : Patung Siraha Horö
English : Siraha Horö Figure
Asal / Origin : Bawòmataluo, Telukdalam
Keaslian / Originality : Replica
Deskripsi / Description :
This statue was original and was made for religious purpose. The other use of this figure was for apologizing as ancestors made a blunder such as: cutting off human head. As they came back from head hunting, they used to apologize to Adu Siraha Horö before staying with their family. They did this to avoid disaster.
Patung ini dibuat untuk tujuan ritual. Biasanya terbuat dari kayu Manawa Danö, Manawa Mbanua atau Ma’usö. Tinggi 151,9 cm dengan tebal 9.0 cm. Kegunaan dari patung ini yaitu: Sebelum para leluhur pergi berburu kepala manusia, mereka meminta restu dari patung ini sambil memukul Fondrahi (tambur) dan mengatakan:
Ubözi wondrahi alaŵa,
Saya memukul tambur hingga bersuara nyaring,
Ubözi wondrahi ebua,
Saya memukul tambur hingga bergemuruh,
Ya’oto ono la’i,
Aku anak yang satria,
Ya’oto simacua,
Aku pria perkasa,
Möi ndraga ba danö,
Kami akan pergi ke medan perang,
Möi ndraga mamunu niha,
Kami akan pergi membunuh orang,
Ubözi wondrahi alaŵa,
Saya memukul tambur hingga bersuara nyaring,
Ubözi wondrahi ebua,
Saya memukul tambur hingga bergemuruh,
Ombakha’ö na te’ala,
Beritahukanlah kalau kalah,
Ombakha’ö göi na möna.
Beritahukan juga kalau menang.
Juga diberhalakan untuk memohon penga-mpunan jika mereka telah melakukan kesalahan yang sangat besar seperti membunuh orang pada saat berperang atau pada saat mereka baru pulang dari perburuan kepala manuasia. Mereka harus terlebih dahulu menghadap Adu Siraha Horö untuk memohon pengampunan sebelum bergabung dengan keluarga. Tujuannya untuk menghindari bencana.
Dalam ritus ini yang bersangkutan menyandarkan tubuhnya pada patung Siraha Horö sambil mengatakan ‘Ohe khöu horögu!’ (Bawalah untukmu dosa-dosaku). Tradisi ini sudah tidak dipraktekkan lagi sejak agama baru masuk di Nias.
60

Nomor Inventaris : 04-0187
Nama / Name
Nias : Adu Lawölö
Indonesia : Patung Lawölö
English : Protective figure
Asal / Origin : Hililaora, Lahusa
Keaslian / Originality : Original
Deskripsi / Description :
Adu Lawölö was normally made of wood or stone. The stone Protective Figure was put in front of house, whereas wooden Protective Figure was placed in the house. The protection and power were asked from this statue if the enemies came. Adu Lawölö is also called Adu Nama (father figure).
Patung Lawölö biasanya dibuat dari batu atau dari kayu. Patung Lawölö dari batu diletakkan di pekarangan rumah, halaman kampung (ewali) atau di gerbang masuk desa (Bawagöli) sehingga disebut juga Lawölö Mbanua, sedangkan yang dibuat dari kayu diletakkan di dalam rumah. Kepada patung ini diminta perlindungan, pertahanan dan kekuatan bila ada musuh (Emali) kampung. Patung Lawölö juga sering disebut Adu Nama (patung ayah).

Wahana Religi (2)
Budaya, Museum
Ornamen
Pusaka yang paling dikenal di Nias adalah rumah-rumah tradisional yang terdiri atas beberapa tipe antara lain:
1. tipe rumah tradisional Nias Selatan yaitu: Omo Nifolasara, Omo Tuho dan Omo Sala;
2. tipe rumah tradisional Nias Tengah, meliputi semua jenis rumah tradisional di wilayah Gomo hingga perbatasan Lölöwa’u;
3. tipe rumah tradisional Idanögawo;
4. tipe rumah tradisional Nias Utara dan Barat, yaitu Omo Laraga;
Pada rumah-rumah tersebut diukir berbagai ornamen yang biasanya diadopsi dari flora dan fauna yang ada di sekitar mereka. Keadaan alam dengan berbagai gejalanya menjadi sumber inspirasi kreativitas. Beberapa jenis fauna yang sering diukir atau di pahat sebagai ornamen dan sekaligus menjadi simbol dengan makna implisit berupa pesan moral dan ekspresi jiwa serta perasaan pemilik dan pembuat, misalnya: buaya, monyet, beberapa jenis burung (enggang, elang dll.), ikan, ular, monster (Lasara), ayam jago, rusa, cicak, dan sebagainya. Sedangkan yang diadopsi dari jenis flora misalnya: pohon Fösi, Nandrulo, Endruo, pohon Tori’i-Tora’a (sejenis pohon yang berhubungan dengan mitos-mitos asal-usul masyarakat Nias), pakis (Wöli-wöli) dll. Ukiran-ukiran itu dikombinasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian dan berbagai bentuk perhiasan. Ada juga ornamen lain yang sering dijumpai yaitu ‘Ni’ogolilimo’ sejenis lingkaran dengan pola bintang (mata angin) di tengahnya dalam bentuk daun-daun sehingga kelihatannya seperti belahan jeruk yang dipotong pada pertengahannya.
Selain flora dan fauna sebagai sumber inspirasi, mereka juga mengukir (memahat) sesuatu berdasarkan pengalaman dan penglihatan aneh mereka setiap hari, seperti yang sering diukir pada Balö Hulu dan Hagu Laso di dalam rumah tradisional. Selain pada rumah-rumah tradisional, ornamen tersebut juga sering dipahat pada batu megalit, bahkan juga pada peralatan sehari-hari, misalnya pada peralatan pertanian dan rumah tangga.
61

Nomor Inventaris : 03-2875
Nama / Name
Nias : Adu mbinu
Indonesia : Patung kepala manusia
English : Cut off human head
Asal / Origin : Hili’otalua, Nias Tengah
Keaslian / Originality : Replica
Deskripsi / Description :
A cut off human head that depicts an ancient tradition of people in some areas in Nias. It is not applied anymore.
Patung kepala manusia yang dibuat dari kayu. Patung tersebut menggambarkan tradisi kuno yang dulu dipraktekkan oleh sebagian masyarakat Nias yaitu berburu kepala manusia (Mangai Högö, Binu). Cara memenggal kepala manusia seperti yang terlihat pada patung tersebut. Tradisi ini telah lama ditinggalkan terlebih setelah agama baru masuk di Nias dan setelah Indonesia merdeka ditambah lagi dengan adanya kesadaran karena kemajuan pendidikan. Panjang 74,5 cm dan tinggi 11,3 cm.
62

Nomor Inventaris : 03-0765
Nama / Name
Nias : Hagu laso
Indonesia : Relief
English : Relief of wooden carving
Asal / Origin : Onohondrö, Telukdalam
Keaslian / Originality : Replica
Deskripsi / Description :
Relief of wooden carving on the wall of Southern Nias traditional house.
Papan dinding rumah tradisional Nias Selatan yang telah diukir dengan berbagai ornamen ciri khas Nias.
63

Nomor Inventaris : 83-0267
Nama / Name
Nias : Balö Hulu
Indonesia : Relief
English : Relief of wooden carving
Asal / Origin : Gomo
Keaslian / Originality : Original
Deskripsi / Description :
A relief of wooden carving in traditional house of Gomo. By such carving, the owner expresses something to the community particularly for visitors.
Ukiran dalam rumah tradisional dengan posisi menghadap ke bawah seolah-olah sedang terbang. Biasanya, di atas Balö Hulu diletakkan patung orang tua (Adu Zatua). Melalui ukiran semacam ini, pemilik rumah mengekspresikan berbagai hal kepada masyarakat terutama kepada tamu berdasarkan simbol (lambang). Pemilik rumah juga meyakini bahwa dengan adanya ukiran tersebut mereka dapat mengetahui sesuatu yang belum terjadi melalui firasat yang muncul dari kekuatan berbagai ukiran yang ada pada Balö Hulu.
64

Nomor Inventaris : 03-2088
Nama / Name
Nias : Ora Vo
Indonesia : Tangga
English : Wooden ladder
Asal / Origin : Lawindra, Telukdalam
Keaslian / Originality : Original
Deskripsi / Description :
A wooden ladder to go up to rafter above the hearth in southern traditional houses.
Tangga kayu untuk naik ke kasau yang berada di atas dapur rumah tradisional Nias Selatan. Pada setiap jenjang ada ukiran manusia dan ornamen lainnya. Lebar 12,5 cm, tinggi 153,8 cm dan tebal 3,0 cm.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar !