Senin, Maret 23, 2009

Bamböwö Laiya

Bamböwö Laiya, Ingin Menjadi Saluran Berkat bagi yang Lain




Teluk Dalam (NiasIsland.Com)

Bamböwö Laiya, MA Sebagai politisi, penulis, pendeta, akademisi, pekerja sosial, dan lainnya menempel dalam dirinya. Tutur kata yang tenang teratur dan juga kadang bisa meledak-ledak menjadi ciri khasnya. Tidak mengherankan bila ia secara gamblang menyatakan perbedaan sikapnya dengan bupati terpilih di Nias Selatan. Ia tidak pernah berpura-pura atau bermanis kata-kata terhadap hal yang menurut dia tidak sesuai dengan nilai-nilai baik yang diterima secara umum. Itulah Bamböwö Laiya. Salah satu putra Nias yang memutuskan kembali ke Nias dan membangun daerahnya.

Sepertinya tak ada kata berhenti untuk belajar dalam kamusnya. Tak salah kalau suami Sitasi Zagötö ini mahir berbahasa Inggris dan juga bahasa Batak. Ia juga mengaku bahwa ia bisa berbahasa Ibrani dan Yunani kuno, walaupun sebatas pasif. Satu yang pasti, ilmu yang didapatnya tidak mengkristal dalam dirinya sendiri. Ia biarkan ilmu yang diterimanya mengalir keluar. Ia meyakini bahwa Nias miskin karena kebodohan dan kebodohan itu ada karena kemiskinan. Dua hambatan ini ia coba hadang dengan mendirikan lembaga pendidikan yang berkualitas di Nias Selatan. Hingga tahun 2008 lembaga pendidikan yang dipimpinnya sudah menghasilkan sekitar 90 sarjana.

Ditanya soal obsesinya, Bamböwö Laiya menyatakan ada dua obsesi yang belum tercapai. Obsesi pertama adalah mau melihat Nias sebagai daerah Kristen sejati, warna Kristen kental kelihatan. Artinya, manusia Nias takut akan Tuhan sehingga korupsi hilang, tidak ada jual beli hukum, dan semuanya komit dengan tanggung jawabnya masing-masing. Obsesi kedua adalah STKIP dan STIE Nias Selatan hendaknya bisa menjadi universitas. Bila memungkinkan, di samping kedua sekolah tinggi yang telah ada itu, Bamböwö Laiya berharap bisa membangun 1 atau 2 lagi sekolah tinggi lain, bidang eksata, yang nantinya bisa digabung menjadi sebuah universitas, yaitu Universitas Nias Selatan. Sungguh obsesi yang sangat mulia.

Beberapa waktu lalu, kepada NiasIsland.Com Bamböwö Laiya membagi cerita. Berikut petikan wawancaranya.


Bisa dijelaskan alasannya kembali berkarya di Pulau Nias (pulang kampung) mengingat tidak sedikit orang Nias yang enggan balik setelah sukses di luar Pulau Nias?

Sudah merupakan program kami dalam hidup (saya dan istri: Sitasi Zagotö, MA) bahwa setelah menimba ilmu dan pengalaman dari luar, hasilnya akan kami amalkan dan bagi kepada sesama, terutama kepada orang yang kami sayangi. Dan kelompok yang kami sayangi itu adalah Orang Nias.

Terkesan hal ini agak ethnocentrism, tetapi demikianlah adanya. Kami selalu berdoa agar kami bisa menjadi saluran berkat bagi yang lain. Tidak ada gunanya bila orang yang pernah mengenal kami di Nias, hanya "kenyang" mendengar cerita keberhasilan kami tetapi tidak pernah mereka menikmati hasil keberhasilan tersebut. Itulah alasan kenapa kami (saya dan istri) pulang kampung ke Nias, kami mau lakukan sesuatu di Nias!

Artinya, sebelum pulang kepangkuan Bapa di sorga nantinya ada baiknya bila kami membagi waktu untuk melakukan sesuatu untuk orang yang kami sayangi. Itulah yang kami lakukan sekarang.

"Sebagai orang yang sudah memasuki usia tua, kami memiliki tanggung jawab moral untuk memberi atau membagi kepada yang lain apa yang pernah kami alami."

Hingga tahun 2008, kami telah berhasil mencetak 94 orang Sarjana Pendidikan dan Sarjana Ekonomi dari Lembaga Perguruan Tinggi STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Nias Selatan dan dan STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) Nias Selatan yang kami dirikan.

Lembaga yang sudah memiliki Izin Operasional di Telukdalam, Nias Selatan, ini telah banyak menghasilkan sarjana yang sebagian telah menjadi Pegawai Negeri Sipil. Hingga tahun akademik 2008/2009 ini kedua sekolah tinggi itu sudah memiliki 2.000 mahasiswa. Mohon doa restu semoga kedua perguruan tinggi ini bisa lebih maju lagi pada masa yang akan datang dan bisa menjelma menjadi Universitas Nias Selatan kelak.


Sekarang Bapak aktif di dunia pendidikan, budaya, politik, dan juga keagamaan. Apakah tidak ada kendala tentang ini mengingat "dunia-dunia" tersebut kadang tidak sejalan? Dan, dari semuanya itu mana yang lebih menarik buat Bapak?

Dunia pendidikan, budaya, politik, dan keagamaan (dan semuanya itu) kita giring ke muara yang sama, yaitu membangun kedamaian dan kesejahteraan bagi umat manusia (kesejahteraan jasmani dan rohani).

Memang kadang ada ketegangan antara politik dan keagamaan, tetapi kita netralisasi dengan pertanyaan: "politik untuk siapa, keagamaan untuk siapa?" Untuk manusia juga, kan?

Namun, bagi kami, yang paling menarik di antara kesemuanya adalah pendidikan dan keagamaan. Orang Nias miskin karena bodoh dan orang Nias bodoh karena miskin. Karena itu, rantai kebodohan itu harus diputus terlebih dahulu agar dapat terperbaiki kesejahteraan mereka nantinya.


Mengenai Nias Selatan, bagaimana penilaiaannya setelah menjadi kabupaten sendiri?

Nias Selatan telah menjadi satu kabupaten tersendiri, itu bagus! Banyak segi positifnya. Memiliki banyak peluang untuk maju karena Nias Selatan sebenarnya memiliki segudang potensi. Hanya, sayang, bupati yang terpilih (mudah-mudahan terpilih benar) kurang pas dan kurang memiliki kapasitas sebagai pemimpin sehingga Nias Selatan tidak bisa meningkatkan diri.


Melihat keadaan ini, bagaimana seharusnya pemimpin Nias Selatan ke depan?

Ke depan, Bupati Nias Selatan sebaiknya orang yang takut akan Tuhan, energetik, sehat secara prima, memiliki ide yang visioner, berwawasan nasional dan internasional, memiliki jejaring di tingkat pusat, dan komit dengan jabatannya.

***

Sebagai seorang tokoh BNKP, Bamböwö Laiya mencoba melakukan pembaruan di dalam tubuh lembaga gereja tertua di Nias itu. Ia memprakarsai transformasi yang mendasar, yakni dengan mendirikan BNKP Raya Bawõ Nifaoso. Gereja ini, menurut Bamböwö Laiya, adalah gereja yang kontestual, bersendikan budaya dan bahasa.

Tujuan utama Bamböwö Laiya mendirikan gereja ini adalah tidak lebih karena kekhawatirannya akan bahasa Nias Selatan (bahasa Telukdalam) yang jarang dipakai dalam bidang keagamaan.


Sebagai Ketua Sinode BNKP Raya Bawõ Nifaoso, bagaimana Bapak memandang BNKP sebagai organisasi terbesar di Nias? Banyaknya "pecahan BNKP" yang yang muncul, apakah itu merupakan indikasi positif atau sebaliknya? Bagaimana seharusnya BNKP berbuat sehingga tidak muncul pecahan-pecahan selanjutnya?

Tidak ada yang salah dalam BNKP. BNKP sekarang sudah bagus dengan beberapa koreksi. Kami munculkan BNKP Raya sebagai gereja yang kontekstual, bersendikan budaya dan bahasa.

Sekarang ini, Bahasa Nias Selatan sedang di ambang kepunahan. Sejak Zaman Zending hingga sekarang, orang Nias Selatan terbiasa menggunakan Bahasa Gunungsitoli atau Li Niha Yõu dan tidak pernah berdoa dan bernyanyi dalam Bahasa Ibu, yaitu Bahasa Daerah Nias Selatan. Alkitab, buku nyanyian, dan liturgi pun ditulis dalam bahasa Nias Utara atau orang Nias Selatan sebut "Bahasa Gunungsitoli".

Bila orang dijauhkan dari budayanya maka kekeristenan yang dianut akan dipahami dangkal. Bila berkembang pun, akan berkembang tanpa internalisasi yang mengakar. Itulah latar belakang munculnya BNKP Raya.

Yang terjadi sebenarnya bukan perpecahan, tetapi arus dinamika. Hal yang bisa dilakukan oleh BNKP agar tidak banyak lagi yang memisah diri adalah memberi hak otonomi kepada mereka yang mau pisah itu. Jadi, BNKP tinggal sebagai pemersatu karena satu roh beragam fungsi.

Kalau BNKP melakukan hal itu, BNKP Raya siap masuk kembali ke BNKP. Menurut saya kurang bermanfaat bila banyak ragam organisasi gereja karena umat bingung menentukan mana yang baik buat dirinya.


Mengenai kebiasaan penggunaan "bahasa Gunungsitoli" oleh orang Nias Selatan seperti yang disebut di atas, apakah hal itu salah atau kurang tepat? Bagaimana kalau kita anggap itu sebagai bahasa persatuan di Pulau Nias, seperti Bahasa Indonesia di NKRI, sedangkang Li Niha Raya, Tello, dan lain-lain harus dikembangkan sebagai bagian dari ragam bahasa di Nias?

Penggunaan bahasa Gunungsitoli itu tidak salah. Memang sudah harus demikian, yaitu "bahasa Gunungsitoli" (bahasa Nias) akan menjadi bahasa persatuan karena telah dipakai luas di tengah-tengah masyarakat Nias. Akan tetapi, Li Niha Raya harus diselamatkan juga.

Jumlah kosa kata bahasa Gunungsitoli lebih kurang 5.100 kosa kata sedangkan Li Niha Raya lebih kurang 3.500 kosa kata. Ini berarti, jumlah kosa kata Li Niha Raya 69 persen dibandingkan dengan bahasa Gunungsitoli. Jadi, Li Niha Raya sudah sanggup menjadi "bahasa kedua" di Pulau Nias, walaupun penuturnya hanya dilakukan oleh 101.000 orang di antara 750.000 orang penduduk Nias. Dalam hal ini, Li Tello dan Hibala dianggap termasuk dalam Li Niha Raya.


Bagaimana Bapak memandang sekarang ini (setelah pemekaran) hubungan antara Nias Selatan dengan Nias dan juga kabupaten yang lain? Misalnya dalam kasus "Pesta Ya'ahowu" baru-baru ini, Nias Selatan tidak terlibat saat itu. Dalam menyikapi calon Provinsi Tapanuli juga, Nias dan Nias Selatan sempat berbeda sikap. Bagaimana seharusnya agar kita suku bangsa Nias tetap bersatu dalam hal-hal yang fundamental?

Setelah pemekaran, hubungan Nias Selatan dengan Nias seharusnya lebih akrab lagi sebab keduanya harus saling menguatkan dan mendukung. Kekurangan yang satu harus diisi oleh yang lain. Lagi pula tali pengikat di antara keduanya adalah "sama-sama suku bangsa Nias". Demikian juga dengan kabupaten lainnya, Nias Utara dan Nias Barat.

Tentang Nias Selatan yang tidak terlibat dalam kasus "Pesta Ya'ahowu" baru-baru ini, kami kurang tahu apakah "tidak terlibat" atau "tidak dilibatkan". Hanya saja Pesta Ya'ahowu sekali-sekali dilaksanakan di Telukdalam atau di Lahewa atau di Ono Limbu Nias Barat. Jangan tempat pelaksanaannya di Gunungsitoli saja.

Perbedaan sikap tentang Provinsi Tapanuli itu adalah perbedaan sikap tingkat elite. Di tingkat rakyat berbeda. Namun, Bupati Nias Selatan toh telah menarik dukungannya terhadap calon Provinsi Tapanuli itu sehingga Nias dan Nias Selatan sekarang sudah sama-sama menolak bergabung dengan calon Provinsi Tapanuli. Saya senang dan setuju sekali ketika Nias dan Nias Selatan sama-sama menolak bergabung dengan Provinsi Tapanuli karena kita tidak mau menjadi suku satelit Tapanuli. Suku Nias harus tegak sebagai SATU SUKU dan membangun perekonomian semesta di Nias. Inilah hal-hal yang fundamental itu.


Tentang wacana Provinsi Nias, apa komentarnya?

Kalau Nias bisa terwujud menjadi satu provinsi kenapa tidak. Tetapi, harus memenuhi sejumlah indikator yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Tentu juga harus disertai dengan tekad bulat dan dukungan kelima daerah tingkat II di seluruh daratan Nias. Jangan ada yang ditinggal, semua harus terlibat.

Kadang orang Nias suka menggunting dalam lipatan gara-gara nafsu ingin menguasai dan sifat egois. Kadang tega meninggalkan teman. Untuk mencapai cita-cita sebuah provinsi. Tepislah kedua sifat yang saya sebut tadi.

Kalau ada yang merintis gagasan provinsi, yang lain harus mendukungnya. Tidak sebaliknya, nanti kalau sudah dimulai oleh si A maka si B bikin lagi dan kemudian si C bikin juga. Istilahnya di Telukdalam: "fara'u ba dalu faohisa" (artinya bertengkar di tengah perjuangan). Maka sebelum gagasan provinsi dimulai, hendaknya semua elite politik berembuk dan duduk bersama untuk menggalang kebersamaan.


Tentang lembaga pendidikan yang sedang dikelola, ada yang perlu disampaikan kepada publik?

Kami membangun STKIP dan STIE Nias Selatan untuk mendekatkan fasilitas perguruan tinggi kepada masyarakat yang tidak memperoleh kesempatan studi ke luar daerah karena alasan biaya.

Sekarang di Nias Selatan ada 49 SLTA dan setiap tahun banyak tamatan SLTA tersebut yang merantau keluar daerah untuk mencari lowongan kerja tanpa bekal pendidikan yang memadai. Mereka menjadi tukang cuci piring di restoran, pembantu rumah tangga di kota, kuli bangunan di sejumlah proyek, pembabat rumput di perkebunan besar, tukang angkut barang di pelabuhan, dan sebagai tukang becak.

Seandainya orang Nias tamat sarjana, menguasai salah satu bahasa asing, mampu mengoperasikan komputer, dan bisa mengoperasikan kendaraan roda empat, maka dia pasti tidak lagi hanya jadi manusia sekelas cuci piring dan pembantu rumah tangga. Kepada orang-orang inilah kami persembahkan perguruan tinggi yang kami bangun dan kelola ini.


Bagaimana tentang SDM Nias Selatan atau SDM Nias secara umum, apakah mereka sulit bersaing di tingkat nasional? Kendala utamanya apa sebenarnya?

SDM Nias pada umumnya dan Nias Selatan khususnya masih belum bisa bersaing di tingkat nasional karena Nias tidak didukung dengan fasilitas pendidikan yang memadai. Pada saat anak-anak Nias belajar di sekolah, fasilitas pendukung sangat kurang, buku-buku kurang, laboratorium fisika, biologi, dan bahasa tidak ada. Selain itu, guru-guru juga banyak yang tidak komit dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengajar. Penegakan disiplin belajar juga sangat kurang.

Anak didik akhirnya hanya mendapat ijazah tanpa mutu. Kalau guru-gurunya komit pada tanggung jawab, berdedikasi tinggi, konsisten menegakkan kedisiplinan, ditambah dengan fasilitas pendukung yang diperlukan, maka anak didik juga serius belajar sehingga hasilnya akan lain, mampu bersaing di tingkat nasional.


Bagaimana komentarnya mengenai tulisan atau buku-buku tentang Nias, penulis orang Nias yang relatif sedikit dan siapa penulis generasi muda Nias yang cukup menjanjikan saat ini?

Memang pengarang buku-buku tentang Pulau Nias masih banyak didominasi oleh pengarang asing. Mulai zaman Zending hingga sekarang, pengarang asing masih terus mendominasi, sementara kebanyakan orang Nias sendiri kurang tertarik mengenai tulis-menulis. Namun, orang Nias sudah harus mulai menulis sekarang dengan motivasi "apa yang saya tulis akan menjadi peninggalan saya bagi orang lain bila saya meninggal suatu waktu nanti".

Generasi muda Nias yang menurut saya cukup menjanjikan, antara lain, adalah Fotarisman Zalukhu dan Andrias Harefa.

Buku Bamböwö Laiya yang sudah diterbitkan, antara lain, sebagai berikut:

* Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias, Indonesia diterbitkan oleh Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

* Nilai Budaya Nias Selatan "Sumane ba Bowo Ni'orisi" diterbitkan oleh Yayasan Bamper Madani, Telukdalam Nias.

* HOHO Sastra Lisan Nias Selatan diterbitkan oleh Yayasan Bamper Madani, Telukdalam Nias.

* "Amaedola" Refleksi Karakter Orang Nias Selatan, diterbitkan oleh Yayasan Bamper Madani, Telukdalam Nias.

* Kumpulan Peribahasa Nias


Ada hal lain yang perlu disampaikan?

Yang menjadi pikiran bagi saya adalah bagaimana agar Nias bisa bangkit secara menyeluruh dari keadaannya sekarang. Drs. Firman Harefa, S.Pd, Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai Riau, pernah menulis dalam situs NiasIsland.Com agar pemimpin pemerintahan Nias yang 5 daerah otonom sekarang patut belajar dari Monang Sitorus, bupati Tobasa, yang mampu meningkatkan produksi jagung Tobasa hingga 14-15 ton per hektar, melampaui produksi rata-rata jagung nasional, 8 ton per hektar.

Monang Sitorus sangat berhasil membangun daerahnya melalui tanaman jagung, juga beras. Dan, keputusannya menyediakan dana penyangga dalam APBD untuk mendukung perjuangannya itu patut ditiru.

Firman Harefa menguraikan lebih lanjut bahwa ketika beliau bertugas di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Kabupaten Bintan pernah membentuk tim dari pemerintah daerah untuk memasarkan ikan asin ke Australia. Usaha ikan asin sederhana memang, tetapi Pemda Kabupaten Bintan mampu melihat hal itu sebagai peluang bisnis daerah. Lalu beliau menyarankan agar pemda-pemda yang ada di Nias berbuat seperti itu. Akan tetapi, para bupati yang ada sekarang tidak sederap dalam memajukan daerah Nias secara menyeluruh.

Menurut penilaian saya, Bupati Nias Binahati Baeha, SH, terlepas dari segala kekurangannya, masih berjuang untuk rakyat Nias dibandingakan dengan Bupati Nias Selatan. Bupati Nias Selatan sangat-sangat jauh dari apa yang kita harapkan.

Selain itu, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya bahwa hendaknya Nias menjadi daerah Kristen sejati, warna Kristen kental kelihatan. Artinya, manusia Nias masing-masing takut akan Tuhan sehingga korupsi hilang, judi dan narkoba hilang, tidak ada lagi jual beli hukum, setiap orang komit dengan tanggung jawabnya masing-masing, setia kawan, sehati sepikir, dan tidak membeda-bedakan Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, Kota Gunung Sitoli, dan Nias. Dulu kita pernah terpisah-pisah oleh pemekaran kabupaten dan kita dipersatukan kembali oleh pemekaran provinsi bila nanti terwujud Provinsi Nias. (APL/YTH)


BIODATA

Nama lengkap: BAMBÕWÕ LAIYA, MA
Tanggal lahir: 1944
Tempat lahir: Desa Botohilitanõ, Telukdalam - Nias Selatan, Sumatera Utara
Istri: Sitasi Zagotö, MA

Pendidikan:

* Fakultas Theologia Universitas HKBP Nommensen Pematang Siantar dengan gelar S.Th. (1969)

* Graduate School, Silliman University, Dumaguete City, Philippine dengan gelar Master of Arts (M.A..) bidang Anthropology (1975).

Karier:

* Tutor pada Pusat Latihan Pendidikan Injili (PLPI) BNKP di Gunungsitoli (1971 -1972).

* Pendeta BNKP di Sihare'õ, Ono Zikhõ dan Dima (1976-1977).

* Kepala Kantor Pariwisata yang pertama sekali di Daerah Tingkat II Nias, Gunungsitoli (1976-1977).

* Dosen Tetap pada Jurusan Antropologi Universitas Gajah Mada (1978).

* Program Officer pada Kantor UNICEF (Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa) di Jakarta (1978 - 1989).

* Pelatih Nasional Teknologi Tepat Guna Departemen Dalam Negeri Jakarta (1978 - 1989).

* Kepala Kantor Perwakilan UNICEF di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan (1989 - 1991).

* Program Officer pada Kantor SDC (Swiss Agency for Development and Cooperation) di Jakarta (1991 - 1998).

* Konsultan untuk Bank Dunia bidang Pendidikan di Jakarta (1999).

* Ketua Tim Penyusun Nyanyian Gerejani Aliran Protestan berbahasa Nias Selatan, bekerja sama dengan Gereja BKPN (1999 - 2001).

* Pendiri dan Ketua Umum Badan Musyawarah dan Pergerakan Masyarakat Adat Nias Selatan (BAMPER MADANI) sejak 2000 hingga sekarang.

* Bersama istri, Sitasi Zagõtõ M.A., mendirikan IKIP dan STIE Kampus II Teluk -dalam, sekaligus menjadi Ketua Badan Penyantun terhadap Perguruan Tinggi Nias Selatan (BP PERTI NISEL) tersebut dan menjadi Dosen Luar Biasa disana (2002).

* Ketua DPC Partai Damai Sejahtera Kabupaten Nias di Gunungsitoli (2001 - 2003) dan Ketua DPC Partai Damai Sejahtera Kabupaten Nias Selatan (2003 - sekarang).

* Ketua Fraksi Kebangsaan, DPRD Kabupaten Nias Selatan di Telukdalam (2003 - sekarang ).

* Ketua Sinode BNKP Raya Bawõ Nifaoso sejak 2001 hingga sekarang.


Buku yang sudah diterbitkan:

* Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias, Indonesia diterbitkan oleh Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

* Nilai Budaya Nias Selatan "Sumane ba Bowo Ni'orisi" diterbitkan oleh Yayasan Bamper Madani, Telukdalam Nias.

* HOHO Sastra Lisan Nias Selatan diterbitkan oleh Yayasan Bamper Madani, Telukdalam Nias.

* "Amaedola" Refleksi Karakter Orang Nias Selatan, diterbitkan oleh Yayasan Bamper Madani, Telukdalam Nias.

* Kumpulan Peribahasa Nias

Making the family as a cultural force prosperous and harmonious

1 komentar:

yosatulo mengatakan...

Ya'ahowu Pak,
Saya sangat kagum dgn Bapak dan b'serta keluarga Bapak yg tlah mendirikan sebuah prguruan tinggi di NIAS SELATAN yang t'cinta, yg b'susah payah mnciptakan Sarjana-sarjana yang intelek.
Saya sangat mendukung jika Bapak membangun tempat pendidikan lagi seperti apa yang Bapak bilang di atas.
Smoga tuhan dapat mendengar smua dua Bapak..

AMIN...

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar !