Berkebun Menumbuhkan Rentang Hidup Anda
Orang berumur seratus tahun di seluruh dunia berasal dari latar belakang dan profesi berbeda, akan tetapi salah satu dari hobi yang paling umum di antara mereka adalah berkebun. Sebagai olahraga, olahraga dapat memperkuat otot; sebagai disiplin berkebun membutuhkan kesabaran dan keteguhan hati untuk membudidayakan: dan pada akhirnya berkebun dapat memberikan hasil dan kesenangan bagi para pelakunya. Penelitian menunjukan bahwa orang berkebun mempunyai tingkat kemungkinan lebih rendah terserang penyakit jantung dan osteoporosis jika dibandingkan dengan mereka yang tidak berkebun.
(sumber:Buku Rahasia Panjang Umur: Dr.Maoshing Ni)
gabriellaia27@gmail.com
1.Harimaoduha 2. Fondrege Harimao 3. Bawö Harimao/ Silaötambali 4. Nawö/ Namö Gowasa II 5.Pdt.Wkl. (Sinenge) Hata Laia -Tuha Nadu (1886 - 28/12/1971) 6. Guru Ag.SNK.Taorani Laia (25/11/1930 -14/9/2004) 7. SNK. Gabriel Laia, S.P. (1966)
Jumat, Januari 30, 2009
Kamis, Januari 29, 2009
Percakapan Kaisar Kuning 4700 tahun yg lalu
Qibo, dokter kerajaan menjawab, "Di masa lalu, orang melaksanakan jalan itu. Mereka memahami prinsip keseimbangan yin dan yang. Dengan demikian, mereka menciptakan latihan2 seperti meditasi untuk membantu menjaga keseimbangan dg alam semesta. Mereka makan dg pola yg seimbang secara teratur, bangkit dan istirahat pd waktunya, menghindari kelebihan beban pd tubuh dan pikiran mereka, serta tidak berlebihan dalam segala hal. Mereka mempertahankan kesejahteraan tubuh dan pikiran. Oleh karena itu, tidak aneh jika mereka hidup lebih dari seratus tahun."
"Kini, orang telah mengubah jalan mereka. Mereka meminum anggur seperti meminum air, makan secara berlebihan dan bertingkah laku buruk yang lain, mengeringkan esensi mereka, dan mengurangi energi mereka. Orang mengabaikan ritme dan keteraturan alam semesta demi mencari kegembiraan dan kesenangan sesaat. Mereka gagal mengatur pola makan dan gaya hidup mereka, serta tidur tidak laya. Mereka tidak mengetahui rahasia melestarikan energi dan vitalitas mereka. Oleh karena itu, tidak heran jika mereka terlihat tua pada umur lima puluh dan mati tak lama kemudian." (Pengobatan Klasik Kaisar Kuning)
Siapa yang mau hidup lebih seratus tahun segeralah berubah....!
Hiduplah secara sederhana,
Makan jangan berlebihan,
Aktifitas jasmani dan rohani seimbang,
Tetaplah bermurah hati tidak emosional.
Selamat hidup sejahtera!
gabriellaia27@gmail.com
Jumat, Januari 23, 2009
PUSH UP "TIDAK SEMUA KHOTBAH DISAMPAIKAN DENGAN KATA-KATA
Tahun ini, Dr. Christianson mempunyai seorang siswa yang spesial yang bernama, Steve. Steve belajar dengan tujuan untuk melanjutkan studinya ke seminari dan mau masuk ke dalam pelayanan. Steve seorang yang popular, ia disukai banyak orang, dan seorang atlet yang memiliki fisik yang prima dan ia merupakan siswa terbaik di kelas professor itu.
Suatu hari, Dr Christanson meminta Steve untuk tidak langsung pulang setelah kuliah karena ia mau berbicara kepadanya. 'Berapa push up yang bisa kamu lakukan?' Steve menjawab, 'Saya melakukan sekitar 200 setiap malam.' '200? Lumayan itu, Steve,' Dr. Christianson melanjutkan. 'Apakah kamu dapat melakukan 300?' Steve menjawab, 'Saya tidak tahu. Saya tidak pernah melakukan 300 sekaligus.' 'Apakah kamu pikir kamu dapat melakukannya? ' tanya Dr.Christianson. 'Ok, saya bisa coba,' jawab Steve.
'Saya mempunyai satu proyek di kelas dan saya memerlukan kamu untuk melakukan 10 push up setiap kali, tapi sebanyak 30 kali, jadi totalnya 300. Dapatkah kamu melakukannya? ' tanya sang profesor. Steve menjawab, 'Baiklah, saya pikir saya bisa. Ok, saya akan melakukannya. ' Dr Christianson berkata, 'Bagus sekali! Saya memerlukan Anda untuk melakukannya Jumat ini.' Dr Christianson menjelaskan kepada Steve apa yang ia rencanakan untuk kelas mereka pada Jumat itu.
Pada hari Jumat, Steve datang awal ke kelas dan duduk di bagian depan kelas. Saat kelas bermula, sang profesor mengeluarkan satu kotak besar donut. Bukan donut yang biasa tetapi yang besar dan yang punya krim di tengah-tengah. Setiap orang sangat bersemangat karena kelas itu merupakan kelas terakhir pada hari itu dan mereka bisa menikmati akhir pekan mereka setelah pesta di kelas Dr Christianson.
Dr. Christianson pergi ke baris pertama dan bertanya, 'Cynthia, apakah kamu mau salah satu dari donut ini?' Cynthia menjawab, 'Ya'. Dr. Christianson lalu berpaling kepada Steve, 'Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Cynthia bisa mendapatkan donut ini?' 'Tentu saja!' Steve lalu melompat ke lantai dan dengan cepat melakukan 10 push up. Lalu Steve kembali ke tempat duduknya. Dr.Christianson meletakkan satu donut di meja Cynthia.
Dr. Christianson lalu pergi siswa selanjutnya, dan bertanya, 'Joe, apakah kamu mau suatu donut?' Joe berkata, 'Ya.' Dr. Christianson bertanya, 'Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Joe bisa mendapatkan donutnya?'
Steve melakukan 10 push up, dan Joe mendapatkan donutnya. Begitulah selanjutnya, di baris yang pertama. Steve melakukan 10 push up untuk setiap orang sebelum mereka mendapatkan donut mereka. Di baris yang kedua, Dr. Christianson berhadapan dengan Scott. Scott seorang pemain basket, dan fisiknya sekuat Steve. Ia juga seorang yang sangat popular dan punya banyak teman wanita.
Saat profesor bertanya, 'Scott apakah kamu mau donut?' Jawaban Scott adalah, 'Baiklah, bisakah saya melakukan push up saya sendiri?' Dr. Christianson berkata, 'Tidak, Steve harus melakukannya. ' Lalu Scott berkata, 'Kalau begitu, saya tidak mau donutnya.' Dr. Christianson mengangkat bahunya dan berpaling kepada Steve dan meminta, 'Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Scott bisa mendapatkan donut yang tidak ia kehendaki?' Dengan ketaatan yang sempurna Steven mulai melakukan 10 push up. Scott berteriak, 'HEI! Saya sudah berkata, saya tidak menginginkannya! ' Dr Christianson berkata, 'Lihat di sini! Ini kelas saya dan semuanya ini donut saya. Biarkan saja di atas meja jika kamu tidak menginginkannya. ' Ia lalu menempatkan satu donut di atas meja Scott.
Di waktu ini, Steve sudah mulai melakukan push up dengan agak perlahan. Ia hanya duduk di lantai saja karena terlalu capek untuk kembali ke tempat duduknya. Ia mulai berkeringat. Dr. Christianson mulai di baris ketiga. Para siswa sudah mulai merasa marah. Dr Christianson bertanya kepada Jenny, 'Jenny, apakah kamu mengingikan donut ini?' Dengan tegas Jenny menjawab, 'Tidak.' Lalu Dr. Christianson bertanya Steve, 'Steve, maukah kamu melakukan 10 push up lagi agar Jenny bisa mendapatkan donut yang tidak ia mau?'
Steve melakukan 10 push up dan Jenny mendapatkan satu donut. Ruang sudah mulai dipenuhi oleh rasa tidak nyaman. Para siswa sudah mulai berkata,'Tidak! ' dan semua donut dibiarkan di atas meja tanpa ada yang memakannya. Steve sudah kelelahan dan harus berusaha keras untuk tetap terus melakukan push up untuk setiap donut itu. Lantai tempat ia melakukan push up sudah dibasahi keringatnya dan lengannya sudah mulai kemerahan.Dr Christianson bertanya kepada Robert, seorang ateis yang paling lantang suaranya kalau berdebat di kelas, apakah ia mau membantu untuk memastikan bahwa Steve tidak curang dan tetap melakukan 10 push up untuk setiap donut karena dia sendiri sudah tidak sanggup melihat Steve melakukan push upnya.
Dr. Christianson sudah sampai ke baris ke-empat sekarang. Dan beberapa siswa dari kelas yang lain yang sudah bergabung di kelas itu dan mereka duduk di tangga. Saat profesor menghitung kembali, ternyata ada 34 siswa sekarang di kelas. Ia mulai khawatir apakah Steve dapat melakukannya. Dr. Christianson melanjutkan dari satu siswa ke siswa yang selanjutnya sampai ke akhir baris itu. Dan Steve sudah mulai bergumul. Ia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan push up-nya. Steve bertanya kepada Dr. Christianson, 'Apakah hidung saya harus menyentuh lantai untuk setiap push up yang saya lakukan?' Dr.Christianson berpikir sejenak dan berkata, 'Semuanya ini push up kamu. Kamu yang pegang kendali. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau.' Dan Dr. Christianson melanjutkan ke siswa yang selanjutnya.
Beberapa saat kemudian, Jason, seorang siswa dari kelas lain dengan santai mau masuk ke kelas, dan sebelum ia melangkahi masuk, seluruh kelas berteriak serentak, 'JANGAN! Jangan masuk! Kamu berdiri di luar saja!' Jason kaget karena ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Steve mengangkat kepalanya dan berkata, 'Tidak, biarkan dia masuk.'
Professor Christianson berkata, 'Kamu sadar bahwa jika Jason masuk, kamu harus melakukan 10 push up untuk dia?'
Steve berkata, 'Ya, biarkan dia masuk. Berikan donut kepadanya.' Dr.Christianson berkata, 'Ok Steve. Jason, kamu mau donut?' Jason yang baru masuk ke kelas dan tidak tahu apa-apa menjawab, 'Ya, tentu saja, berikan saya donut.'
Steve melakukan 10 push up dengan sangat perlahan dan bersusah payah. Jason yang kebingungan diberikan satu donut. Dr. Christianson sudah selesai dengan baris ke-empat dan mulai ke tempat siswa-siswa dari kelas lain yang duduk di tangga.
Tangan Steve sudah mulai gemetaran dan ia harus bergumul untuk mengangkat dirinya melawan tarikan gravitas. Di waktu ini, keringatnya bercucuran, dan tidak kedengaran apa-apa kecuali bunyi nafasnya yang kencang. Mata setiap orang di kelas itu mulai basah. Dua siswa terakhir adalah dua siswa perempuan yang sangat popular, Linda dan Susan.
Dr. Christianson pergi ke Linda, 'Linda, apakah kamu mau donut?' Linda dengan sedih berkata, 'Tidak, terima kasih'
Professor Christianson dengan perlahan bertanya, 'Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Linda bisa mendapatkan donut yang tidak ia mau?' Dengan pergumulan yang berat, Steve dengan perlahan melakukan push-up untuk Linda. Lalu Dr Christianson berpaling kepada siswa yang terakhir,Susan. 'Susan, kamu mau donut ini?' Susan dengan air mata yang berlinangan di pipinya mulai menangis. 'Dr Christianson, mengapa saya tidak boleh membantunya? '
Dr. Christianson, dengan mata yang berkaca-kaca berkata, 'Tidak, Steve harus melakukannya sendiri; saya telah memberinya tugas itu dan ia bertanggungjawab untuk memastikan setiap orang mempunyai kesempatan untuk mendapat donut itu, tidak kira apakah mereka menginginkannya atau tidak. Hanya Steve seorang saja yang mempunyai nilai yang sempurna. Setiap orang telah gagal dalam ujian mereka, mereka entah bolos kelas atau memberikan saya tugas yang di bawah standar. Steve memberitahu saya di latihan football, saat seorang pemain buat salah, ia harus buat push up. Saya memberitahu Steve bahwa tidak seorang pun dari kalian yang boleh datang ke pesta saya melainkan ia membayar harga dengan melakukan push up bagi kalian. Steve dan saya telah membuat perjanjian demi kalian semua.'
'Steve, maukah kamu membuat 10 push up supaya Susan bisa mendapatkan donut?' Steve dengan sangat perlahan melakukan 10 push up yang terakhirnya. Ia tahu ia sudah menyelesaikan semua yang harus dia lakukan. Secara total, Steve telah melakukan 350 push up, tangannya tidak tahan lagi dan ia jatuh tersungkur ke lantai. Dr. Christianson lalu berpaling ke kelas dan berkata, 'Dan, demikianlah, Juru Selamat kita, Yesus Kristus, di atas kayu salib, ia telah melakukan semua yang dibutuhkan olehnya. Ia menyerahkan semuanya. Dan seperti mereka yang ada di ruangan ini, banyak di antara kita yang membiarkan hadiah itu begitu saja di atas meja, sama sekali tidak kita jamah.'
Dua siswa mengangkat Steve dari lantai untuk duduk di kursi, walaupun sangat lelah secara fisik, Steve tersenyum bahagia. 'Engkau sudah berbuat dengan baik, hambaku yang baik dan setia,' kata professor dan ia menambahkan, 'Tidak semua khotbah disampaikan dengan kata-kata.' Berpaling kepada kelas, profesor berkata, 'Harapan saya adalah kalian dapat memahami dan sepenuhnya mengerti akan semua kekayaan kasih karunia dan rahmat yang telah diberikan kepada kalian lewat pengorbanan Yesus Kristus. Allah tidak menyayangkan putra satu-satu-Nya, tetapi menyerahkan dia untuk kita semua. Apakah kita memilih untuk menerima menolak karunia-Nya, harganya sudah lunas dibayar.'

'Apakah kita akan menjadi orang yang bodoh dan yang tidak bersyukur dengan meninggalkan hadiah itu di atas meja?' GBU.. (milis dari Sdri.Sophie Beatrix)
Salam,
gabriellaia27@gmail.com
Rabu, Januari 14, 2009
Maena Tarian Khas Nononiha
Muda-mudi mari bersukaria, dengan tarian yang kita punya,
Ini tak kalah dengan poco-poco.....
Satu tarian di Tanah Nias,
Mari tari Maena’e…..
Lihat ini bukan gaya sajojo, juga bukan gaya poco-poco,
Tapi tarian asli di Nias.....
Jangan…jangan hilangkan budaya kita…..
Mari lestarikan ini sekarang, datalau famaena zisiga-siga!
Penggalan bait diatas adalah penggalan dalam sebuah lagu berjudul tari maena, yang dinyanyikan oleh Agus Heumasse.
Maena sebuah tarian yang sangat simpel dan sederhana, tetapi mengandung makna kebersamaan, kegembiraan, kemeriahan, yang tak kalah menariknya dengan tarian-tarian yang ada di Nusantara.
Dibandingkan dengan tari moyo, tari baluse/tari perang (masih dari Nias), maena tidak memerlukan keahlian khusus. Gerakannya yang sederhana telah membuat hampir semua orang bisa melakukannya.
Kendala atau kesulitan satu-satunya adalah terletak pada rangkaian pantun-pantun maena (fanutunõ maena), supaya bisa sesuai dengan event dimana maena itu dilakukan.
Pantun maena (fanutunõ maena) biasanya dibawakan oleh satu orang atau dua orang dan disebut sebagai sanutunõ maena, sedangkan syair maena (fanehe maena) disuarakan oleh orang banyak yang ikut dalam tarian maena dan disebut sebagai sanehe maena/ono maena. Syair maena bersifat tetap dan terus diulang-ulang/disuarakan oleh peserta maena setelah selesai dilantunkannya pantun-pantun maena, sampai berakhirnya sebuah tarian maena.
Pantun maena dibawakan oleh orang yang fasih bertuntun bahasa Nias (amaedola/duma-duma), namun seiring oleh perkembangan peradaban yang canggih dan moderen, pantun-pantun maena yang khas li nono niha sudah banyak menghilang, bahkan banyak tercampur oleh bahasa Indonesia dalam penuturannya, ini bisa kita dengarkan kalau ada acara-acara maena dikota-kota besar.
Maena boleh dibilang sebuah tarian seremonial dan kolosal dari Suku Nias, karena tidak ada batasan jumlah yang boleh ikut dalam tarian ini. Semakin banyak peserta tari maena, semakin semangat pula tarian dan goyangan (fataelusa) maenanya.
Maena biasanya dilakukan dalam acara perkawinan (fangowalu), pesta (falõwa/owasa/folau õri), bahkan ada maena Golkar pada pemilu tahun 1971 (niasonline.net), menandakan betapa tari maena sudah membudaya dan fleksibel, bisa diadakan dalam acara-acara apa saja.
Tidak salah lagi maena merupakan tarian khas yang mudah dikenali dan dilakukan oleh ono niha maupun oleh orang diluar Nias yang tiada duanya dengan tarian poco-poco (Sulawesi) atau tarian sajojo (Irian), yang telah memperkaya panggung budaya nasional.
Di Nias maupun di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Batam, Surabaya, Bandung, Padang, Sibolga dsb, kita sering menjumpai maena pada acara pernikahan orang-orang Nias, dan kitapun kadangkala ambil bagian didalamnya "tetapi hanya sebatas" sebagai sanehe maena.
Maena, tari moyo, tari baluse, hombo batu, li niha, amaedola adalah merupakan kekayaan budaya ono niha yang seharusnya terus dilestarikan, agar jati diri kita sebagai ono niha tidak menghilang dan ke-Indonesiaan kita tetap terjaga oleh pengaruh budaya dari luar yang semakin kuat menghimpit budaya-budaya lokal.
Maena harus kita gaungkan lebih keras lagi, bila perlu bukan hanya maena Golkar pada tahun 1971. Kita juga seharusnya membuat dan menyiapkan maena-maena yang lain dalam berbagai bidang seperti "Maena Pemekaran", supaya Nias bisa berada di garis depan.
Berikut 2 (dua) contoh maena dalam acara perkawinan (fangowalu), ini hanya beberapa dari kekayaan fanehe ba fanutunõ dalam tarian maena. Apa yang tersajikan semoga bermanfaat untuk kita semua ono niha, dan menjadi semangat dalam penggalian budaya Nias yang bermanfaat bagi banyak orang (sanehe maena). TEHE MAENA !
1. MAENA FANGOWAI
Fanehe maena (syair maena)
He Ama He Ina Tomema Zalua
Dama’owai Ami Fefu Badõi Maena
Fanutunõ maena (pantun maena)
Ira ama ira ina sowatõ sonuza
Taosaraõ dõdõda bawanemaõ ndra tomeda
Ira ama ira ina sowatõ sonuza
Taowai fefu domeda ya’ahowu walukhata
Oi omuso sa dõdõda meno falukha ita
Me’oi ngaõtõ zalawa me’oi ngaõtõ duha
Da ta’andrõ saohagõlõ khõ Lowalangi Ama
Meno itimba de’ala irege no faondra ita
Nadali wa’abõlõda nadali wa’a niha
Lõtola falukha ita bazimaõkhõ da’a
Siofõna mafaolagõ khõu numõnõ solemba
Ba walõ hulõ-hulõu we hulõ-hulõu dema-dema
Batõinia zilõ satua lõmendrua zilõ ama
Bayomo barõ gosali we yomo barõ ledawa
Duhu so yomo ninada inada bõrõ zatua
Si teduhõ-duhõ tõdõ numana wangera-ngera
Duhu so ndra tana nama talifusõ lõbada’a
Bõrõ halõwõ negara walõ a’oi so ira
No faduhu i dõdõda wa faomasi Zoaya
Watola fatalifusõ ita zidombua banua
Heumõnõ hetomema sino alua baolayama
Batema bologõdõdõ melõ sumange-mi khõma
Databato khõda maena tandregegõ ua da’a
Meoya lala halõwõ bazimaõkhõ da’a
2. MAENA FANEMA MBOLA
Fanehe maena
Yae Mbola Numõnõ Simõi Molemba
Sumange Ndra Inada Sumange Zonuza
Oi Nihaogõ Wama’anõ Nõsi mbola Laoda
Tandra Wasi’oroi Dõdõ Mõi Umõnõ Ninada
Fanutunõ maena
Ba databõrõtaigõ khõda dõi maena
Maena fanema mbola nibee zonuza
Hezasa lafa’anõ nafo ndra inada
Ba mbola niohulayo bola niotarawa
Tengasa bawa’aõsõ tenga bawehufa
Wolalau niohulayo bola niotarawa
Halõwõ danga zonekhe uwu duru zodoma
Oi nihaogõ wolalau nihaogõ niera-era
Hadia nõsi mbelu hadia nõsi mbola
Yaia lala zumange afo silima endronga
Ba da tazara-zara nõsi mbola laoda
Ae batenga amaedola nituhoi fangombakha
Ba yaia dawuo sini daõ tawuo lara
Ba yaia gambe nilõwõ gambe bakha ba mbola
Yaia wino mazagi daõ mazaga
Fino nitutuyu fino sandrohu boha
Yaia mbetua uto betua uto ziwae lõnga
Yaia mbago siriri bago sihola
Daõ mbago nikhõ-khõ ba galo kola
Daõ mbago nifoe ba galo manawa
Meno ahori so nafo silima endronga
Daõ zumange mbanua zumange mbõrõ zonuza
Ba no ibee bazuzu wangera-ngera
Mbola sumange nuwu sumange zibaya
Meno serege dõdõmi zumangema
Omuso gõi dõdõma wonganga ya'ia
Tabato khoda maena fanema mbola
Bologõ dõdõ na ambõ tõra wangombakha
gabriellaia27@gmail.com
Ini tak kalah dengan poco-poco.....
Satu tarian di Tanah Nias,
Mari tari Maena’e…..
Lihat ini bukan gaya sajojo, juga bukan gaya poco-poco,
Tapi tarian asli di Nias.....
Jangan…jangan hilangkan budaya kita…..
Mari lestarikan ini sekarang, datalau famaena zisiga-siga!
Penggalan bait diatas adalah penggalan dalam sebuah lagu berjudul tari maena, yang dinyanyikan oleh Agus Heumasse.
Maena sebuah tarian yang sangat simpel dan sederhana, tetapi mengandung makna kebersamaan, kegembiraan, kemeriahan, yang tak kalah menariknya dengan tarian-tarian yang ada di Nusantara.
Dibandingkan dengan tari moyo, tari baluse/tari perang (masih dari Nias), maena tidak memerlukan keahlian khusus. Gerakannya yang sederhana telah membuat hampir semua orang bisa melakukannya.
Kendala atau kesulitan satu-satunya adalah terletak pada rangkaian pantun-pantun maena (fanutunõ maena), supaya bisa sesuai dengan event dimana maena itu dilakukan.
Pantun maena (fanutunõ maena) biasanya dibawakan oleh satu orang atau dua orang dan disebut sebagai sanutunõ maena, sedangkan syair maena (fanehe maena) disuarakan oleh orang banyak yang ikut dalam tarian maena dan disebut sebagai sanehe maena/ono maena. Syair maena bersifat tetap dan terus diulang-ulang/disuarakan oleh peserta maena setelah selesai dilantunkannya pantun-pantun maena, sampai berakhirnya sebuah tarian maena.
Pantun maena dibawakan oleh orang yang fasih bertuntun bahasa Nias (amaedola/duma-duma), namun seiring oleh perkembangan peradaban yang canggih dan moderen, pantun-pantun maena yang khas li nono niha sudah banyak menghilang, bahkan banyak tercampur oleh bahasa Indonesia dalam penuturannya, ini bisa kita dengarkan kalau ada acara-acara maena dikota-kota besar.
Maena boleh dibilang sebuah tarian seremonial dan kolosal dari Suku Nias, karena tidak ada batasan jumlah yang boleh ikut dalam tarian ini. Semakin banyak peserta tari maena, semakin semangat pula tarian dan goyangan (fataelusa) maenanya.
Maena biasanya dilakukan dalam acara perkawinan (fangowalu), pesta (falõwa/owasa/folau õri), bahkan ada maena Golkar pada pemilu tahun 1971 (niasonline.net), menandakan betapa tari maena sudah membudaya dan fleksibel, bisa diadakan dalam acara-acara apa saja.
Tidak salah lagi maena merupakan tarian khas yang mudah dikenali dan dilakukan oleh ono niha maupun oleh orang diluar Nias yang tiada duanya dengan tarian poco-poco (Sulawesi) atau tarian sajojo (Irian), yang telah memperkaya panggung budaya nasional.
Di Nias maupun di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Batam, Surabaya, Bandung, Padang, Sibolga dsb, kita sering menjumpai maena pada acara pernikahan orang-orang Nias, dan kitapun kadangkala ambil bagian didalamnya "tetapi hanya sebatas" sebagai sanehe maena.
Maena, tari moyo, tari baluse, hombo batu, li niha, amaedola adalah merupakan kekayaan budaya ono niha yang seharusnya terus dilestarikan, agar jati diri kita sebagai ono niha tidak menghilang dan ke-Indonesiaan kita tetap terjaga oleh pengaruh budaya dari luar yang semakin kuat menghimpit budaya-budaya lokal.
Maena harus kita gaungkan lebih keras lagi, bila perlu bukan hanya maena Golkar pada tahun 1971. Kita juga seharusnya membuat dan menyiapkan maena-maena yang lain dalam berbagai bidang seperti "Maena Pemekaran", supaya Nias bisa berada di garis depan.
Berikut 2 (dua) contoh maena dalam acara perkawinan (fangowalu), ini hanya beberapa dari kekayaan fanehe ba fanutunõ dalam tarian maena. Apa yang tersajikan semoga bermanfaat untuk kita semua ono niha, dan menjadi semangat dalam penggalian budaya Nias yang bermanfaat bagi banyak orang (sanehe maena). TEHE MAENA !
![]() |
1. MAENA FANGOWAI
Fanehe maena (syair maena)
He Ama He Ina Tomema Zalua
Dama’owai Ami Fefu Badõi Maena
Fanutunõ maena (pantun maena)
Ira ama ira ina sowatõ sonuza
Taosaraõ dõdõda bawanemaõ ndra tomeda
Ira ama ira ina sowatõ sonuza
Taowai fefu domeda ya’ahowu walukhata
Oi omuso sa dõdõda meno falukha ita
Me’oi ngaõtõ zalawa me’oi ngaõtõ duha
Da ta’andrõ saohagõlõ khõ Lowalangi Ama
Meno itimba de’ala irege no faondra ita
Nadali wa’abõlõda nadali wa’a niha
Lõtola falukha ita bazimaõkhõ da’a
Siofõna mafaolagõ khõu numõnõ solemba
Ba walõ hulõ-hulõu we hulõ-hulõu dema-dema
Batõinia zilõ satua lõmendrua zilõ ama
Bayomo barõ gosali we yomo barõ ledawa
Duhu so yomo ninada inada bõrõ zatua
Si teduhõ-duhõ tõdõ numana wangera-ngera
Duhu so ndra tana nama talifusõ lõbada’a
Bõrõ halõwõ negara walõ a’oi so ira
No faduhu i dõdõda wa faomasi Zoaya
Watola fatalifusõ ita zidombua banua
Heumõnõ hetomema sino alua baolayama
Batema bologõdõdõ melõ sumange-mi khõma
Databato khõda maena tandregegõ ua da’a
Meoya lala halõwõ bazimaõkhõ da’a
2. MAENA FANEMA MBOLA
Fanehe maena
Yae Mbola Numõnõ Simõi Molemba
Sumange Ndra Inada Sumange Zonuza
Oi Nihaogõ Wama’anõ Nõsi mbola Laoda
Tandra Wasi’oroi Dõdõ Mõi Umõnõ Ninada
Fanutunõ maena
Ba databõrõtaigõ khõda dõi maena
Maena fanema mbola nibee zonuza
Hezasa lafa’anõ nafo ndra inada
Ba mbola niohulayo bola niotarawa
Tengasa bawa’aõsõ tenga bawehufa
Wolalau niohulayo bola niotarawa
Halõwõ danga zonekhe uwu duru zodoma
Oi nihaogõ wolalau nihaogõ niera-era
Hadia nõsi mbelu hadia nõsi mbola
Yaia lala zumange afo silima endronga
Ba da tazara-zara nõsi mbola laoda
Ae batenga amaedola nituhoi fangombakha
Ba yaia dawuo sini daõ tawuo lara
Ba yaia gambe nilõwõ gambe bakha ba mbola
Yaia wino mazagi daõ mazaga
Fino nitutuyu fino sandrohu boha
Yaia mbetua uto betua uto ziwae lõnga
Yaia mbago siriri bago sihola
Daõ mbago nikhõ-khõ ba galo kola
Daõ mbago nifoe ba galo manawa
Meno ahori so nafo silima endronga
Daõ zumange mbanua zumange mbõrõ zonuza
Ba no ibee bazuzu wangera-ngera
Mbola sumange nuwu sumange zibaya
Meno serege dõdõmi zumangema
Omuso gõi dõdõma wonganga ya'ia
Tabato khoda maena fanema mbola
Bologõ dõdõ na ambõ tõra wangombakha
gabriellaia27@gmail.com
FAMAHA'Ö MOROI BA HOHO NONONIHA
Saduonoma SNK. Ta'orani Laia (Ama Heza)
Famasao: Sindruhu wa niha sanau fanera-nera, zi sökhi hada ba zi sökhi böwö ndra satuada föna;
Inama Sebua Fa'omasi Sitimanis Loi (Ina Reli)
Oroma moroi ba hoho niröira khöda. Hadia so göi zi toröi ba mbuabuada fa’asökhira ? Khöda waneranera. Hoho nisura andre tou tehalö ia moroi ba mbuku: Hoho, Manömanö Nono Niha So’atumbukha moroi ba Pancasila – nifa’anö S.W. Mendröfa (A. Rozaman)
NI FOSIA’A WAWOLOSA WANGAI ANGETULA, SOTENDROMA BA MBARAHAO
(mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama)
NI FOSIA’A WAWOLOSA WANGAI ANGETULA, SOTENDROMA BA MBARAHAO
(mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama)
Na dödöda ba wa mazö-mazökhi
na ohitöda wangehangehao
he na ba gorahua ba nöri
he na ba gorahua zato
ba nisia’aigö wafulita
nisia’aigö fawolo
khö nawöda ba gorahua
ba khö ndra Tuha Terongo
hezo nihuhugö liwua
hezo zi fao dödö zato
da’ö zindruhu gangetula
dozi tatuwu fa aro
oroisa ba ndraono mifuri
sinöngöni ndraono sato
na ohitöda wangehangehao
he na ba gorahua ba nöri
he na ba gorahua zato
ba nisia’aigö wafulita
nisia’aigö fawolo
khö nawöda ba gorahua
ba khö ndra Tuha Terongo
hezo nihuhugö liwua
hezo zi fao dödö zato
da’ö zindruhu gangetula
dozi tatuwu fa aro
oroisa ba ndraono mifuri
sinöngöni ndraono sato
so wö ae zöndra zi ha samösa
so wö ae zöndra sambua boto
ba hulö i niwa’ö ba umanö
hulö niwa’ö ba hoho
sondröni silalöyawa gosali
sondröni silalöyawa nomo
me idöni lö si fao zi hönö
me idöni lö si fao zato
lö tegilo zi sadanga tanö
löna’i tebua zi salito
za’oila zaekhu danga niha soya
za’oila na aekhu niha sato
ha fa ikö ofeta ba golayama
ha fa ikö ofeta baulu zebolo
ue ndrali ba mbö’ö
khö Duha Balugu Gözö
Sambua sagötö ndralimö
dali fanikha idanö
famaogö dödö dalifusö
famaogö zi sambua tanö
na oi fa dali, oi fa be
falugö zara falagae
lö hili si tebai sumösö
lö noro tebai mu’ohe
NI FOSIA’A ZOGUNA BA ZIWARA-WARA
(Mengutamakan Kepentingan Umum)
Löna gufahuwu ba zigölu
Löna gufabela ba mbogo
Me ha önia ni’era’era nia
Ha talunia nifo’ösi nia
Löna gufabela göi ba mböhö
löna gufahuwu ba laoyo
Nahia nia dalu gatua
Föröma nia nuwu mbaho
Tanehegö gumo-gumo döwu
Da tanehegö lawoha
Löna irai ira fa tötöi
Löna irai ira fakoro
Löna khöra si fakhögu-khögu
Löna khöra si fakhö nia
Oi si fahulö famazö-mazökhi
Oi si fagalio-lio ba wa moduma
Oi lasia’aigö fangorahui
Ba zuzu labe wa ha sambua
Maedo khöda ba wohalöwö
Maedo hö’ö khöda ba fatomosa
Hogu geu tarewe nangi
Faekhu tarewe nidanö
Mana nagi ba lafaogö li
Mana nago ba lafao hago
Aya’aya ndra Si’ulu
Aya nono zalawa
Wamao rozi na fakhumi
Fanadölö zi fawuka
gabriellaia27@gmail.com
so wö ae zöndra sambua boto
ba hulö i niwa’ö ba umanö
hulö niwa’ö ba hoho
sondröni silalöyawa gosali
sondröni silalöyawa nomo
me idöni lö si fao zi hönö
me idöni lö si fao zato
lö tegilo zi sadanga tanö
löna’i tebua zi salito
za’oila zaekhu danga niha soya
za’oila na aekhu niha sato
ha fa ikö ofeta ba golayama
ha fa ikö ofeta baulu zebolo
ue ndrali ba mbö’ö
khö Duha Balugu Gözö
Sambua sagötö ndralimö
dali fanikha idanö
famaogö dödö dalifusö
famaogö zi sambua tanö
na oi fa dali, oi fa be
falugö zara falagae
lö hili si tebai sumösö
lö noro tebai mu’ohe
NI FOSIA’A ZOGUNA BA ZIWARA-WARA
(Mengutamakan Kepentingan Umum)
Löna gufahuwu ba zigölu
Löna gufabela ba mbogo
Me ha önia ni’era’era nia
Ha talunia nifo’ösi nia
Löna gufabela göi ba mböhö
löna gufahuwu ba laoyo
Nahia nia dalu gatua
Föröma nia nuwu mbaho
Tanehegö gumo-gumo döwu
Da tanehegö lawoha
Löna irai ira fa tötöi
Löna irai ira fakoro
Löna khöra si fakhögu-khögu
Löna khöra si fakhö nia
Oi si fahulö famazö-mazökhi
Oi si fagalio-lio ba wa moduma
Oi lasia’aigö fangorahui
Ba zuzu labe wa ha sambua
Maedo khöda ba wohalöwö
Maedo hö’ö khöda ba fatomosa
Hogu geu tarewe nangi
Faekhu tarewe nidanö
Mana nagi ba lafaogö li
Mana nago ba lafao hago
Aya’aya ndra Si’ulu
Aya nono zalawa
Wamao rozi na fakhumi
Fanadölö zi fawuka
gabriellaia27@gmail.com
Langganan:
Postingan (Atom)






